Tampilkan postingan dengan label aroundtheworld. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aroundtheworld. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Catatan H11: Tragedi London

Malam yang tenang di bulan Ramadan tidak dialami di semua tempat. Timur tengah, masih "panas", dan sudah 5 hari ini terjadi kerusuhan di UK, hal yang tak pernah terpikirkan. Sama rasanya ketika membaca berita mengenai tragedi Norway beberapa waktu lalu.

Semalam, pulang taraweh di mesjid, 3 muslim ditabrak oleh what they call "riots", seem to be a terminilogy for them who get involved. (http://www.dailymail.co.uk/news/article-2024375/BIRMINGHAM-RIOTS-Tariq-Jahan-tells-thugs-killed-son-Haroon-2-friends.html),

Aku mencoba membayangkan pulang dari taraweh mesjid, beberapa warga berkerumun, mencoba bersiaga melindungi rumah-rumah mereka, menghindari terjadinya penjarahan. Magrib di belahan utara Eropa memang lebih lama daripada di Nagoya sini. Magrib sekitar 9:30, Isya sekitar 10:30, selesai sholat di mesjid sudah tengah malam.  Dan mungkin jauh dari bayangan, selesai sholat itu, kita akan mendapati anak kita mati, sebagai korban yang tidak jelas.

Reaski sang Ayah membuat kagum dengan kepasrahannya, dengan bijakannya, dalam naungan kesabaran yang mungkin dianugerahkan kepadanya secara berlipat ganda di bulan ini mengatakan; I`m a muslim. I believe in divine fate and destiny, and it was his destiny and his fate, and now he`s gone. And may Allah forgive him and bleass him. I lost my son. Blacks, Asians, Whites, we all live in the same community. Why do we have to kill one another??
 
Pembunuhan diganti pembunuhan baru memang tidak akan pernah memutus rantai balas dendam, hanya maaf yang bisa mematikan kemarahan...

Di balik peristiwa ini, perdana mentri bisa melihat sisi postif yang keluar dari masyarakat: gotong royong saling membantu membersihkan puing-puing. Memang banyak muda mudi yang khilaf terlibat kerusuhan, namun lebih banyak muda mudi yang dengan segala kesadaran berupaya menstabilkan keadaan, membantu dan mengibarkan pesan perdamaian dan hidup aman berdampingan dengan aneka kultur.

Semoga, semoga bisa tercipta dunia yang penuh kedamaian, amiinn...

Timeline kejadian:
Foto:
Video:

Selasa, 17 Agustus 2010

"crash pesawat" dan keajaibannya

Hari ini ada berita dari BBC, tentang pesawat Colombia yang jatuh dan cukup "hancur". Melihat fotonya langsung merinding, membayangkan situasi di dalam pesawat, dan jumlah korbannya yang kayanya bisa jad hampir semua meninggal melihat patahnya pesawat ini.

Tapiiiii--- sampai dua kali baca ulang kalimat awal. Yang tertangkap, 119 tewas. pas baca di bawahnya, bukan, hanya 1 orang tewas, itu pun diduga karena heart attack, aku membayangkan mungkin karena panik atau shock ya.. Pesawat ini membawa 131 penumpang, termasuk crew pesawat, dan dari kecelakaan ini, hampir semua, kecuali 1 orang selamat! subhanallah kebesaran Allah.. di paragraf berikutnya, aku membaca "miracle".. dan di beberapa berita lainnya dari berbagai sumber pun mengatakan keselamatan para penumpangnya sebagai sebuah miracle..

dan aku masih penasaran apa yang penumpang lakukan, sehingga bisa "lolos" dari kecelakaan maut ini --

Colombia plane breaks into pieces after crash

A police officer stands by a crashed plane sitting on the runaway at the airport on San Andres island in ColombiaThe Boeing 737 broke-up after crashing short of the runway

A Colombian passenger plane crashed and broke up as it came into land on an island in the Caribbean, injuring at least 119 people, officials have said.

One person died, apparently from a heart attack - officials said others were "scattered" over the runway.

The Boeing 737 was carrying 131 passengers and crew when it tried to land on the island of San Andres.

The passenger jet, operated by local airline Aires, was reportedly hit by lightning before it crashed.

It had flown from the Colombian capital, Bogota.

Col David Barrero from the Colombian Air Force said reports suggested the plane had crashed at 0149 (0649 GMT) on Monday and that "the skill of the pilot kept the plane from colliding with the airport".

At least 16 non-Colombian nationals were reported to have been on the plane, from countries including the US, Brazil, Costa Rica and France.

'Miracle'

A police statement said the plane's fuselage had broken up into three pieces and that passengers were "literally scattered over the end of the runway".

Start Quote

We tried to get out of the plane because it was starting to shoot flames”

Ricardo RamirezPassenger

The island's police chief, Col Hector Paez, said an 11-year-old girl who had been trapped beneath seats on the aircraft was among those severely injured.

The pilot reported that the plane was struck by lightning, Donald Tascon, deputy director of Colombia's aeronautics authority, said.

"We are inspecting the remains of the plane to try to establish what the damages were and what caused the accident," he told Reuters news agency.

Of 99 passengers taken to the Amor de Patria Hospital on San Andres, only four suffered major injuries according to the hospital director, Dr Robert Sanchez.

The woman who died is thought to have died from a heart attack, Dr Sanchez told Reuters.

Passengers said the plane had appeared to be landing normally before suddenly losing control.

"I felt an impact. My seat was knocked loose but I was able to unbuckle myself and get two of my daughters out," Heriberto Rua was quoted by Reuters as saying.

San Andres map

"We all felt the plane was arriving very, very quickly on the tarmac," 28-year-old French passenger Virginie Giroux told the AFP news agency.

"We did not feel the contact with the ground. We just saw everything flying, everything bursting in the plane."

Another passenger, Ricardo Ramirez, said the accident had "appeared out of nowhere".

"We tried to get out of the plane because it was starting to shoot flames. In a few minutes, a police patrol arrived and helped us," he told the Associated Press.

San Andres Governor Pedro Gallardo described it as a "miracle" that so many survived.

"We have to give thanks to God," he said, and praised rescue workers for their "fantastic" response.

San Andres Island, about 190km (120 miles) east of the Nicaraguan coast, is a popular tourist destination.


Kamis, 10 Juni 2010

Catatan Surya Fahrizal - Mavi Marmara 2010

Source: Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN--Subuh itu masih gelap, Senin, 31 Mei 2010, namun suasana kapal Mavi Marmara sungguh kalang-kabut dan mencekam. Helikopter komando Israel menderu-deru dengan angin yang sangat kencang. Granat suara berdentum di mana-mana. Gas air mata merebakkan asap. Senjata api otomatis berentetan mencari mangsa. Peluru-peluru berdenting menyiram dinding kapal. Kulihat seorang lelaki Turki berpelampung berusaha masuk ke pintu kabin dek 4. Jaraknya dari saya hanya sekitar 4 meter. Kami berada di teras kapal sebelah kiri.

Belum sampai ke pintu, tiba-tiba dia jatuh telentang, lalu memukul-mukulkan tangan kanannya ke lantai kayu seperti menahan sakit yang amat sangat. Karena tak ada yang menolongnya saya langsung mendatanginya. Belum sempat saya menyentuhnya, mendadak seperti ada besi martil menghantam perut saya yang sebelah kanan. Sakitnya luar biasa. Saya langsung jatuh terjerembab dalam posisi berbaring dan menindih kamera pinjaman, Canon EOS 400D semi-pro dengan lensanya cukup besar dan panjang. Saya sempat menyingkirkan benda itu agar bisa berbaring lebih leluasa, karena tiba-tiba nafas menjadi sangat susah.

Terasa ada yang memapah saya masuk ke lobi kecil dekat ruang wartawan. Lalu saya dibaringkan, sesudah itu kesadaran saya timbul tenggelam. Rasanya dingin sekali. Beberapa orang menjepretkan kamera ke arah saya. Kulihat Yasin, jurukamera TVOne, mendekat sambil merekam tapi ia lalu seperti tak tega, dan berhenti merekam. Pelampungku dilepas. Karena melihat nafasku tersengal-sengal seseorang memasangkan masker oksigen. Lumayan lega, tapi rasa sakit di perut makin menghebat, nyeri sekali.

Tak lama kemudian saya digotong turun ke lobi dek 3 yang lebih luas di depan ruang informasi. Bau anyir darah sangat tajam menusuk. Ruangan itu sudah penuh sesak oleh korban yang bergelimpangan dan orang-orang yang berusaha menolong.

Dibantu Mas Dzikrullah dan Abdillah, seorang dokter berkaos IHH, wajahnya seperti orang India, menggunting semua bajuku. Dia ingin memastikan letak luka sumber rasa sakitku. Lalu seorang dokter Malaysia berusaha memasang jarum infus di lenganku. Berkali-kali ditusuknya tanganku.

Akhirnya sesudah infus terpasang, saya digotong dan ditempatkan di salah satu kursi ruang makan yang jadi hall tempat tidur ratusan relawan laki-laki. Oksigen terpasang. Rasanya agak mendingan. Nafasku masih sesak, tapi rasa sakit di perut kanan sudah banyak berkurang. Mungkin ada yang menyuntikkan pain killer. Dr Arief dari MER-C sempat memeriksa luka dan menenangkan saya.

Saat itu saya lihat orang hilir mudik menolong para korban. Tadinya saya tidak tahu, tapi setelah mendengar ada yang membacakan surat Yasin, baru saya sadar, ada sesosok jenazah terbujur di lantai dekat ujung kaki saya. Sesekali orang mengerumuni dan mendoakannya.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN--Saya sendiri waktu itu tidak membayangkan kalau beberapa saat setelahnya akan dibawa tentara Israel. Bayangan saya, “Ah… kayaknya sudah nggak bakal sampai ke Gaza nih. Pulang ah… Main sama anak-anak dan nulis berita…” Sesudah itu, yang paling banyak terpikirkan bagaimana memilih angle tulisan, dan apa saja yang mau ditulis.

Terus terang saya sempat bingung mau nulis apa setiap hari, sejak di Istanbul. Karena saya menyiapkan diri untuk menulis features di majalah, dan tidak terlalu siap menulis hard news. Alhamdulillah, kami bertiga, saya, Mas Dzikru dan Mbak Santi, jadi bisa bergantian mengirim berita pendek setiap hari.

Tak lama kemudian, pasien cedera di hall tempat saya berbaring sudah pergi semua. Karena itu saya digotong lagi oleh teman-teman Indonesia, dipindahkan ke hall yang masih banyak orang cederanya. Mereka yang sehat sebagian besar sudah disuruh keluar oleh tentara Israel lewat pintu belakang . Saya tak tahu mereka kemana, sebab rasanya kapal itu masih berlayar tapi tujuan akhirnya masih jauh.

Sesudah semua penumpang yang sehat habis, Hanin Zo’bi, anggota parlemen Israel orang Arab-Palestina di dekat saya minta kepada tentara agar tidak semua diangkut helikopter karena banyak yang terlalu parah. Saya sendiri berusaha untuk tidak pingsan. Alhamdulillah. Saya nggak sadar ada Okvi atau tidak di samping saya.

Tahu-tahu seorang tentara Israel menyuruh saya berdiri dan berjalan. Setelah melihat-lihat keadaan saya sebentar, tentara Israel berkulit bule dan berpenutup muka itu bilang, “Yes, you can walk. Stand up and walk up stairs… I will help you to stand.” Saya pikir, gile juga nih orang, gue baru ditembak disuruh jalan. Sesudah saya berdiri saya dibiarkan jalan sendiri, terhuyung-huyung. Dia membantu memegangi infus di belakang saya.

Nafas memang sudah mulai teratur, tapi badan rasanya lemas sekali. Alhamdulillah tidak terasa sakit. Saya sama sekali tidak membayangkan, apa yang belakangan ditemukan dokter dan tertulis di status medis saya, bahwa peluru menghantam dada kanan atas saya, masuk menyerempet paru-paru, mematahkan rusuk kanan terakhir, merobek diafragma, menyerempet liver sedikit, dan kemudian peluru itu berhenti sebelum menyentuh tulang panggul.

Berjalan kaki dari kursi makan tempat saya berbaring menuju dek 6 di atap kapal rasanya kelabu. Saya benar-benar sendirian. Semua ruangan kapal yang saya lewati sudah kosong melompong dari para relawan. Tentara Israel lalu lalang.

Dari dek 3 saya keluar ke teras sebelah kanan, lalu saya berjalan lewat tangga besi berpagar, muncul di teras dek 4 dekat ruang wartawan, lalu naik lagi tangga besi ke dek 5 dekat anjungan kapten. Sepanjang jalan kulihat suasana sangat berantakan tapi tanpa manusia. Nampak bekas-bekas perkelahian, alat-alat elektronik, matras, besi-besi bekas pagar kapal, darah berceceran di mana-mana.

Yang paling parah, tangga vertikal dari dek 5 ke dek 6, penuh dengan lumuran darah. Saya dipaksa naik lewat tangga yang tegak itu. Rasanya berat sekali. Sempat celana saya kedodoran, lalu diperbaiki oleh tentara yang mengawal. Celana saya memang sudah terbuka sejak pertama kali disuruh berdiri oleh tentara Israel di dek 3.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN--Sesampainya di atap alias dek 6, saya lihat ada sekitar 10 orang yang luka parah seperti saya. Nampaknya kebanyakan orang Turki. Angin kencang yang berasal dari helikopter seperti hendak menerbangkan saya, sampai kupegang botol infus sendiri, takut diterbangkan juga, karena selang infus sudah mengibas-ibas hebat.

Begitu giliran saya tiba untuk diangkut ke atas helikopter, saya diikat ditandu, lalu dikerek ke atas ditandem dengan seorang paramedik AL Israel. Sesampainya di dalam helikopter, yang menyambut saya seorang dokter bule Israel berkaca mata. Dia memeriksa luka, bahkan membelah sedikit bagian yang tertembak, seperti mencari peluru. Sakitnya luar biasa. Tapi mereka tidak menemukan peluru lalu ditutup lagi.

Saya lihat ada seorang pasien lain di helikopter. Seorang Turki bertubuh agak gemuk. Saya lihat indikator jantungnya sudah tidak memberikan sinyal naik turun. Hanya ada garis lurus. Sempat terpikir, “Nih orang masih hidup nggak ya?”

Kemudian dua orang tim medis, mungkin dokter, satu yang tadi berkaca mata, satu lagi botak, dua-duanya bule, memutuskan untuk menyuntik sesuatu dan menyayat saya di iga sebelah kanan. Sepertinya mereka menemukan perdarahan di dalam dan hendak mengeluarkan. Terasa ada darah menyembur dari sayatan itu, lalu mereka memasang selang yang belakangan baru aku tahu, gunanya untuk mengeluarkan darah. Belakangan saya diberi tahu darah yang keluar 1000 cc.

Kedua paramedik bule itu sepertinya sangat gembira setelah berhasil memasang selang itu. Karena saya lihat mereka bersalaman sesudah merampungkan pekerjaannya. Paramedik yang botak sering mengacungkan jempol dan berkata “OK” kepada saya sambil tersenyum.

Dalam waktu sekitar 20 menit helikopter mendarat di sebuah helipad di sebuah dataran terbuka. Hampir tidak ada bangunan di sekitarnya. Helikopter atau pesawat lain juga tidak terlihat. Saya kemudian diangkut dengan ambulan. Di ambulan saya bertanya nama tempat itu kepada paramedik Botak tadi. Dia menjawab, “Haifa…”

Sesudah 10 menit, sampailah kami di sebuah rumah sakit dan di situ saya bertemu dengan beberapa pasien lain yang kebanyakan relawan Turki. Seluruh pakaian saya dibuka, diganti pakaian pasien berwarna putih. Seorang perawat perempuan menanyakan nama. Saya hanya menunjukkan kantong celana tempat paspor saya. Diambilnya lalu dia menuliskan identitas saya. Sejak itu nama saya disebut dengan cara berganti-ganti, “Suuuriya… Suraya… Suryaaa…” Kebanyakan sejak hari itu memanggil “Suraya”, mungkin gara-gara penulis pertama menulis dalam bahasa Ibrani dengan ejaan seperti itu.

Sesudah itu saya diperiksa secara maraton, dipindahkan dari satu meja periksa ke meja periksa lainnya. Saya ditanya apakah bisa berbahasa Inggris. Saya diberitahu seseorang berseragam rumah sakit warna biru muda, “Anda tidak perlu bergerak sama sekali, kami yang akan memindahkan Anda.” Mereka bekerja cepat dan cekatan. Kesan saya para dokter dan perawat Israel itu orang-orang yang selalu ingin bekerja cepat, tidak pernah diam atau santai, selalu bergerak dan melakukan sesuatu. Kayak orang kebelet kencing.

Saya dibawa dan diperiksa dari meja ke meja hampir tidak ada jeda. Begitu selesai CT-Scan saya sudah langsung mau dioperasi. Saya sempat disodori dua lembar dokumen yang harus ditandatangani dua-duanya, dan diberitahu akan dioperasi. Saya sempat bertanya, “Apakah [operasi] ini benar-benar perlu?”

“Ya perlu sekali. Supaya kita tahu luka apa saja yang ada di dalam tubuh Anda,” jawab seseorang berseragam medis. Sesudah tanda tangan, saya langsung dibawa ke kamar operasi, dan diberitahu bahwa akan dianastesi alias dibius total. Ruang operasi itu terasa dingin sekali. Tapi beberapa detik kemudian saya sudah tak ingat apa-apa…………

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN--Saat pertama kali sadar, saya terbangun di sebuah kamar bersama empat pasien lain. Seorang di antaranya relawan Turki, yang lain saya tak kenal, mungkin pasien Israel. Di sekeliling saya sudah ada empat atau lima orang dokter dan perawat. Seseorang maju mendekat sambil berkata, “Let me check it.”

Lalu dia membuka ikatan baju pasien di belakang, untuk melihat dada saya. Saya kaget setengah mati melihat dada saya, “Wah, bener-bener dibongkar nih gue…” Sebuah bekas sayatan membujur dari bawah ulu hati terus sampai sekitar 6 jari di bawah pusar, sudah dalam keadaan terjahit rapi dengan logam semacam staples. Tidak ada bekas darah sedikit pun. Lubang bekas jalan masuk peluru juga dijahit dengan staples, ada jahitan lain di dekatnya, tapi saya tak tahu itu luka apa. Alhamdulillah, saya hanya sangat bersyukur proses operasi itu semua saya lalui dalam keadaan sama sekali tidak sadar.

Baru mulai saat itulah saya merasakan atmosfir Yahudi di sekitar saya karena orang-orang saling menyapa dan berbicara dengan bahasa Ibrani. Saya lihat pemandangan di luar jendela indah. Tanahnya berbukit-bukit dan hijau. Ruangan kamar kami berpendingin.

Alhamdulillah, saya sama sekali tidak merasa khawatir, yang ada rasa bosan. Komunikasi saya dengan relawan Turki di kamar saya hanya senyum dan berpegangan tangan. Kami tak saling mengerti bahasa satu sama lain.

Seorang petugas berseragam biru muda, kadang-kadang mengenakan kaos polo, selalu ada di dalam kamar bergantian dengan temannya. Tadinya saya kira dia polisi, ternyata petugas imigrasi. Sejak hari Senin malam sampai Kamis siang saya tidak melakukan apapun kecuali berbaring dan menunggu waktu solat. Saya berpikir mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan tidak sia-sia. Sempat juga terpikir kapan bisa berkumpul keluarga.

Hari Rabu siang, seorang lelaki bule Yahudi yang ramah mengaku bernama Steve, menemui saya di kamar. Dia didampingi dua orang berseragam putih bergaris-garis biru dari Magen David Adom (Bintang David Merah, palang merahnya Israel). Di punggungnya ada bintang David merah. Steve yang gemuk dan mengenakan kaos polo merah itu bilang, “Beberapa hari yang lalu saya baru tiba dari Jakarta. Seminggu saya di Jakarta. Saya sudah kontak dengan departemen kesehatan Indonesia, dr Rustam. Begitu sehat, kami akan mengurus kepulangan Anda.”

Kunjungan singkat Steve dan kawan-kawan hanya sekitar 10 menit. Saya sendiri saat itu masih suka tertidur tanpa sadar, mungkin pengaruh obat pain killer yang terus-menerus diberikan, mungkin juga karena nyaman bernafas dengan tabung oksigen.

Yang menggembirakan, hari Kamis, saya menerima telepon istimewa. Duta Besar Yordania untuk Israel menelepon saya diatur oleh seorang diplomat Yordania yang bisa berbahasa Indonesia. Rasanya senang sekali, karena mulai ada titik terang.

Tapi rupanya ada kejutan menyenangkan berikutnya, dengan fasilitas teleconference, para diplomat Yordania menghubungkan saya dengan Duta Besar Indonesia di Amman, Yordania, Pak Zainulbahar Noor. Setelah menanyakan keadaan saya, beliau menawarkan kalau saya mau bicara dengan salah satu teman. “Di Yordania sini banyak teman Anda…” kata beliau.

Saya sama sekali tidak menyangka bahwa yang dimaksud “teman-teman” itu adalah teman-teman relawan dan wartawan Indonesia. Karena dalam bayangan saya, teman-teman relawan dan wartawan Indonesia yang ada di Mavi Marmara masih ditahan di penjara Israel. Jadi saya bilang, “Terserah lah Pak…” Jadi kaget dan senang sekali begitu yang bicara Mas Dzikrullah meskipun cuma sebentar. Alhamdulillah.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN--Menjelang malam, petugas imigrasi yang menjaga kamar saya memberitahu ada seorang pengacara mau berjumpa saya. Namanya Suhad Bisyara, pengacara wanita pembela hak-hak minoritas Arab dari LSM bernama ‘Adalah. Dia memberikan kartu namanya, semacam lembaga bantuan hukum. Dia menawarkan bantuan apa saja yang diperlukan. Saya bilang, kalau boleh saya perlu pakaian. Malamnya dia datang lagi memberikan dua kaos satu celana dan pakaian dalam.

Relawan Turki yang sekamar dengan saya sudah dijemput pulang. Hari Jumat pengacara Arab itu datang lagi. Dia menanyakan apakah bajunya cocok atau tidak, dan kapan kira-kira ada yang menjemput saya. Saya bilang ada kabar saya akan dibantu kedutaan Yordania.

Saya bertanya kepada petugas imigrasi yang menjaga saya, “Mungkin nggak besok saya dievakuasi ke Yordania?”

“Nggak mungkin, besok hari Sabbath, nggak ada yang kerja,” katanya.

Sesudah itu obrolan mengalir, tapi searah. Dia mulai ngomong sendiri, katanya kami (Israel) sudah memperingatkan kapal Mavi Marvara. Menurut dia Gaza itu zona militer. Tidak ada yang boleh masuk. Monolog itu terus mengalir, “Dunia menuduh kami membunuh anak-anak, padahal kami mengincar teroris. Hanya saja para teroris itu pengecut, bersembunyi di balik perempuan dan anak-anak. Jadi kalau kamu bilang kapal itu (Mavi Marmara) kapal perdamaian, think again…”

Rupanya mesin yang berusaha mengeluarkan saya dari rumah sakit Israel bergerak cukup cepat. Hari Sabtu, kembali atas bantuan duta besar Yordania untuk Israel, saya disambungkan dengan Pak Zainulbahar, Dubes Indonesia di Amman, yang menanyakan keadaan saya dan kesiapan saya dievakuasi dengan ambulan. Rupanya Pak Dubes sudah bicara dengan dr Hani Bakush yang mengoperasi saya, dan dinyatakan saya siap dievakuasi kapan saja.

Hari Ahad saya sudah diluncurkan dengan ambulan dari RS Rambam Medical Center, Haifa, berangkat jam 9.05 pagi dan tiba di check-point perbatasan Yordania-Palestina terjajah King Hussein Bridge jam 12 siang, di sela-selanya sempat bertukar ambulan di tapal batas dari ambulan Israel ke ambulan Yordania.

Di King Hussein Bridge perasaan saya berbunga-bunga. Nggak nyangka begitu banyak yang menjemput terutama wartawan-wartawan dari Indonesia termasuk Mas Dzikru. Ternyata teman-teman relawan juga ada, Mbak Santi, Ust Ferry Nur, Muhendri, Dito, dr Arief. Rasanya lega bisa berkumpul bersama mereka lagi. Alhamdulillah.

***
Sayang beginningnya ga ada cerita ..

Selasa, 01 Juni 2010

Torehan hati di atas kapal Mavi Marmara

Mungkin semua udah baca ya,, lagi rame beredar dimana-mana. and touching for me too.. jadi ingin turut disimpen di blog kecil ini..

sebuah tulisan dari WNI yg berada pada kapal kemanusiaan menuju Palestina...
(source: http://us.detiknews .com/read/ 2010/05/31/ 152331/1366781/ 10/tulisan- santi-sehari- sebelum-mavi- marmara-diserang -israel ) 
 
Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalan an ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia "tangan kanan" seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada begitu banyak activism, heroism. Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan "Heroes of Islam" alias "Para Pahlawan Islam." Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta'ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na'udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta'ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidakikhlasan dan riya? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah's blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah's anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di  sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya. Dari para ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, "Untuk Gaza!" namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak - betapa pun sedikitnya - menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha. Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya - karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air - lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri

Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet.

Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi - agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj'alni minat tawwabiin
Allahumaj'alni minal mutatahirin
Allahumaj'alni min ibadikassalihin

29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.


====
Santi Soekanto adalah salah satu dari 12 WNI di kapal Mavi Marmara yang diserbu Israel, ex reporter The Jakarta Post. Surat dibuat di atas kapal Mavi Marmara saat masih berada di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Kabar dari The Jakarta Post hari ini, alhamdulillah ke-12 WNI di atas kapal ini selamat :)

Senin, 31 Mei 2010

Today`s news..

End of March, Beginning of June 2010. Starting opening news in the morning is probably not always good start. All shocking news:

Starting from attack by the Israel, and it`s getting more horrible coz they attack aid delivery to Gaza. Ya Allah.. semoga Allah membukakan jalan perdamaian di dunia, terutama di jalur Gaza. Semoga Hidayah Allah bisa mencapai seluruh hamba-hamba Allah di muka bumi tanpa terkecuali.. semoga mata dan hati semua orang menjadi terbuka.. sarat dengan perdamaian dan keindahan..amiiiinnnnn.....
(news: http://edition.cnn.com/2010/WORLD/meast/05/31/gaza.flotilla.israeli.raid/index.html)
(kompas)

Storm in Guatemala- Central America

Hurricane, atau angin topan sudah menjadi langganan di daerah America namun yang tahun ini benar-benar dasyhat.
Yang pertama eye catching untukku adalah foto udara terbentuknya semacam crater, seperti hantaman meteor. In this link here we can see  aerial view of a crater that opened up after Agatha hit.
http://edition.cnn.com/2010/WORLD/americas/05/31/honduras.storm.emergency/index.html?hpt=C1

Menurut wikipedia.
Tropical Storm Agatha bulan Mei 2010 ini was a weak, but catastrophic tropical cyclone that brought widespread floods to much of Central America and was the deadliest tropical cyclone in the eastern Pacific since Hurricane Pauline in 1997. The first storm of the 2010 Pacific hurricane season, Agatha originated from the Intertropical Convergence Zone, which is a region of thunderstorms across the tropics. It developed into a tropical depression on May 29, and dissipated on May 30, reaching top winds of 45 mph (75 km/h) and a lowest pressure of 1000 mbar (hPa; 29.53 inHg). It made landfall near the Guatemala-Mexico border on the evening of May 29. Agatha produced torrential rain all across Central America, which resulted in the death of one person in Nicaragua. In Guatemala, 118 people were killed and 53 left missing by landslides. 13 deaths also occurred in El Salvador. It soon dissipated over Guatemala.
 
Lengkapnya klik di wikipedia di atas.

Mudah-mudahan yang selamat segera pulih, baik fisik maupun mentalnya. bisa segera recovery kebutuhan dan kehidupan sehari-harinya.

Last shocking news iss.. the smoking toddler in Indonesia.
Pertama kali baca beritanya beberapa minggu lalu, kasus di Malang. dan cara penyelesaian pemerintah juga kayanya kurang pas deh,, langsung terbayangnya, wah jangan2 bisa disalahgunakan sama rakyat "miskin" lainnya. Eh, ternyata keliatannya pasca berita itu, ada gelatan begitu, cuman ga buka beritanya lagi, baca nya aja udah merinding. EH, dari milis Fahima, baca berita serupa masuk di New York times, kasus bocah 2 tahun bernama Aldi,  di sebuah pulau di luar Jawa. And it also appear in CNN, becoming one the headline. His 2 years old, mean same age with my son! Oh My God! This is horrible, they event put the video here
*denger2 emang sempet masuk youtube sih*
dan yang mengerikan BANGET itu karena ortunya juga ga ngerti resiko dari merokok!!! haduhhh kacaunya..
Kayanya ingin teriaaakkk dari duluuu itu, STOP SMOKING!!!!!
tapi sepertinya smoking has become normal part of daily life. Coba aja, di area mana sih yang ga tercium bau rokok. Kayanya orang udah bener2 maklum dengan orang-orang yang merokok di sekitarnya, ya dibiarkan aja gitu. Ga tau kl perokok pasif juga beresiko. Ya masa kita yang ga merokok "pengertian" sama orang yang merokok sembarangan dimana-mana, MESTINYA, KITA JUGA YANGA GA MEROKOK  MINTA PENGERTIANG DENGAN ORANG YANG MEROKOK UNTUK TIDAK MEROKOK DI SEMBARANG TEMPAT. At Least this is what I do -sometimes- di angkot, aku sering minta orang untuk tidak menyalakan rokoknya. Waktu ada acara di rumah atau siapapun, kalau asap rokok masuk ke dalam rumah, aku minta dimatikan. Kl asap rokok di luar terbang ke atas dan tidak terisap anak2 sih masih gpp.

Yang sempat mengkhawatirkan itu memang jumalh yang kian bertambah dan iklan2nya itu lohhh.. dan ternyata bener aja kan! yang meroko semakin muda, ternyata oh ternyata kasus nyata hingga bayi >.< dan di youtube, yang ngerekam si anak 2 tahun ini meroko sambil ketawa ketawa coba!!! betapa mengerikannyaaaa!!!!!!

Kenapa sih, pemerintah atau pengambil kebijakan, atau orang2 pabrik rokok, atau penjual rokok, pada ga bisa berpikir rasional. Pastinya uangnya besar, tapi kerugiannya ga bisa diganti secara materil manapun!!!!!

Dan orang-orang kayanya kebanyakan udah tutup telinga aja soal bahaya merokok. It`s really, really awful!

For this, aku bersyukur banget lahir di keluarga yang ga merokok, nikah dengan suami yang tidak merokok, dan dikelilingin sanak saudara dan sahabat2 yang pengertian soal ini.

Well I wont deny some past time. but I really realise, It`s not good!

Semoga masyarakat kita bisa memahami hal ini di masa depan, terpenting sih dimulai dari orang2 atas yang masang iklan rokok, yang merokok, yang punya pabrik rokok, yang jual rokok.. ya kl fasilitasnya tersedia dimana-mana, tentunya yang beli juga banyak. Well berlaku dua arah ya. Jadi mana dulu yang harus disadari????