Every day is a miracle Every day is an adventure each day will become memories
Kamis, 06 Januari 2011
NASA - NASA Kids' Club
NASA - NASA Kids' Club. Explore the earth and space!
Jumat, 10 Desember 2010
Sekolah Bhinneka | Anak-anak Indonesia di Nagoya
Sekolah Bhinneka | Anak-anak Indonesia di Nagoya.
Di ECIS, Nagoya University, Setiap Sabtu pukul 15.00-17.00.
Pendaftaran siswa dan guru sukarelawan terbuka setiap saat
Senin, 27 September 2010
Ttg anak, malam ini..
- GramediaShop : Satria November
- GramediaShop : Kartun Riwayat Peradaban Iii
KOMPAS.com - Anda bisa saja berpikir Anda kenal anak-anak Anda. Tetapi, masih banyak hal yang perlu dipelajari mengenai balita. Berikut adalah 5 hal tentang balita yang perlu diketahui oleh para orangtua dari pengamatan Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions:
1. Perhatikan si kecil, bukan hanya saat ia bikin salah
Mungkin terdengar seperti hal kecil, namun, menyisihkan (bukan menyisakan) waktu sekali atau dua kali sehari untuk berkonsentrasi dan bermain dengan si kecil bisa bantu banyak dirinya berkembang. Jangan salahkan ia jika banyak hal yang ia lakukan yang ia buat bikin Anda marah. Ingat mengenai gambar-gambar di dinding yang ia lakukan berulang padahal sudah diberitahu itu tidak boleh? Atau kebiasaan berulang untuk melompat di atas ranjang? Ya, itu adalah semacam cara barunya untuk menarik perhatian Anda. Sisihkan waktu 15 menit saja per hari untuk menemaninya dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati sambil main Blackberry. Anggaplah hal ini sebagai sebuah investasi. Waktu rutin yang Anda sisihkan untuknya akan berbuah sebagai sikap baik dari si kecil, karena ia mendapatkan atensi positif yang ia butuhkan.
2. Anak-anak butuh untuk menjadi raja atas dirinya
Ya, di usia balita, anak merasa ia sudah cukup besar untuk menjadi orang yang bisa berpikir sendiri. Ia merasa sudah tahu banyak hal. Jika ia menolak apa pun yang Anda tawarkan dan meminta banyak hal, ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia ingin menjadi raja atas dirinya. Trik yang disarankan McCready adalah untuk menawarkan alternatif. Misal, tawarkan dia beberapa pilihan mudah, seperti mau sereal atau roti untuk sarapan hari ini? Dengan memilih apa yang ia mau, ia akan lebih mudah bekerja sama karena merasa sudah bisa memilih sendiri.
3. Ingin tahu banyak hal
Di usia balita, anak-anak biasanya ingin melakukan banyak hal yang dilakukan oleh orang dewasa. Ia pun ingin dinilai baik, membuat Anda bangga, dan dipuji oleh Anda karena bisa mengerjakan banyak hal yang dilakukan oleh orang dewasa. Tentunya, ia akan butuh Anda untuk mengajarinya. Dengan instruksi sederhana, ia mungkin sudah bisa membantu Anda mencari pasangan dari kaus kaki yang baru selesai dicuci, menaruh alas piring di meja makan, memberi makan si kucing, dan lainnya. Mengajarkan si kecil mengerjakan pekerjaan yang lebih bermakna akan memberinya rasa kepercayaan diri dan kemandirian.
4. Tantrum
Jika si anak sudah mendapatkan perhatian yang ia butuhkan, seharusnya ia tak akan menimbulkan tantrum dan kemarahan untuk menarik perhatian Anda. Namun, jika ia masih saja marah-marah dan melempar tantrum, pastikan ia berada di tempat yang aman serta tidak mengganggu orang lain, biarkan ia mengeluarkan emosinya agar ia tahu bahwa perbuatannya itu tak akan mendapatkan perhatian atau kekuasaan karena bisa melakukan hal tersebut. Bukan hal menyenangkan untuk melempar tantrum saat tak ada penonton.
5. Ia butuh Anda untuk mendengarnya
Anak-anak belum bisa berkomunikasi dengan lancar selayaknya orang dewasa berkomunikasi. Ada kalanya ia mengalami kesulitan untuk memberitahu apa yang ia rasa, yang ia pikirkan, atau pun yang ia baru saja lihat. Saat ia berusaha bicara dengan Anda, bersabarlah, tenangkan diri dan pikiran, turunkan badan setingginya, lalu coba berbagai strategi untuk memahami maksudnya (misal, menunjuk barang). Semakin Anda bisa mengerti caranya untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun bahasa tubuh, ia akan makin percaya diri, dan makin berkurang pula tantrumnya.
Dengan memberinya perhatian dan kekuatan positif, Anda tak hanya menghindari banyak perilaku tak menyenangkan darinya, tetapi juga menyiapkannya untuk mandiri sepanjang masa kecilnya.
KOMPAS.com - Kadang anak balita sangat lucu dan menggemaskan, tetapi ada saat-saat mereka sangat menjengkelkan dan Anda ingin menghukumnya. Anak balita bukan seperti mainan yang datang dengan buku manual dan cara pengoperasian. Menjadi orangtua, seperti sering diucapkan oleh orang bijak, adalah pekerjaan yang tak pernah ada hentinya. Berikut adalah 9 kesalahan yang umum dilakukan orangtua kepada anak balitanya: JAKARTA, SELASA — Saat ini banyak orangtua yang tidak menyadari pentingnya daya imajinasi pada anak. Pada umumnya orangtua hanya mengajarkan anaknya membaca dan berhitung saat mereka balita. Demikian hal tersebut dinyatakan oleh Yoshimi Hori, salah seorang pendiri Jakarta Japan Network (J2net) dalam acara seminar dan workshop anak, buku, dan dunia dongeng di The Japan Foundation, Jakarta, Selasa (3/3). Padahal, menurutnya kemampuan imajinasi pada dunia nyata sangat penting untuk berpikir kreatif dalam merencanakan sesuatu dan berkomunikasi dengan baik. Ia menyanggah pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa daya imajinasi hanyalah kegiatan mengkhayal. Ia mengatakan, imajinasi adalah kemampuan untuk menciptakan bentuk atau gambaran dalam pikiran, bukannya kegiatan mengkhayal yang tidak jelas tujuannya. Kemampuan imajinasi ini menurutnya hanya dapat berkembang dari usia balita sampai delapan tahun karena manusia memiliki hal-hal yang harus dipelajari pada setiap usia pertumbuhannya, yang hanya pada saat itulah hal tersebut bisa didapat. Menurutnya, salah satu cara yang efektif untuk merangsang daya imajinasi anak adalah dengan mendongeng atau bercerita. Namun, ia menyayangkan banyak orangtua saat ini yang tidak memiliki keterampilan mendongeng. "Oleh karena itu, buku bergambar menjadi salah satu solusinya," ujar Yoshimi. Dengan menggunakan buku bergambar, maka setiap orangtua dapat dengan mudah mengembangkan cerita dari gambar-gambar yang ada. Para orangtua juga tidak perlu memiliki banyak perbendaharaan cerita anak-anak. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa bercerita dengan buku bergambar dapat mengembangkan wawasan anak dan memperkaya perbendaharaan kata mereka. Ketika anak mendengar dan melihat gambar-gambar tersebut, maka dengan sendirinya ia akan belajar berkomunikasi dan menambah wawasannya dari gambar-gambar tersebut. Terakhir, ia mengatakan, kegiatan mendongeng adalah cara yang efektif untuk mempererat hubungan orangtua dan anak. MELIHAT Si Kecil takzim mencium tangan kakek neneknya, memberi salam, atau terbiasa mengucapkan terima kasih tentu sebagai orangtua kita akan bangga. Tata krama atau sopan santun sudah dibutuhkan Si Kecil sejak ia mengenal sosialisasi. Sikap sopan santun yang dimiliki anak akan membuatnya bisa berperilaku etis dan hidup harmonis. Menggigit diri sendiri atau orang lain kerap dilakukan balita untuk menyalurkan emosi negatifnya. Selain untuk menyalurkan kekesalannya, gigitan balita juga kerap dilakukannya sebagai upaya untuk menggoda atau menarik perhatian. Bagaimana mengatasinya?
1. Tidak konsisten
Pernah menyaksikan program Nanny 911 atau Super Nanny? Terlihat betapa sulitnya si kecil diajak kerja sama dan sulitnya mereka menurut jika Anda tidak konsisten dengan perkataan? Ya, anak balita harus mulai belajar mengenai konsekuensi sejak awal. Ia harus mengetahui apa yang akan didapatkan jika tidak pergi mandi atau tidur pada waktu yang seharusnya. Semakin konsisten dan bisa ditebak apa yang akan ia alami jika peraturan tak dipatuhi, semakin mudah anak diajak kerja sama.
Maka, buatlah rutinitas yang tetap untuk si anak. Membuat konsistensi untuk orangtua atau pengasuh anak bisa menjadi tantangan yang amat sulit. Upayakan untuk tidak mencoba melakukan negosiasi dengan anak. Ragu-ragu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi anak yang membandel dan tidak menuruti aturan? Duduklah bersama pasangan Anda sejak awal dan bicarakan bagaimana merespons anak yang tak mematuhi peraturan agar si anak tidak mendapat pesan yang salah dan mengadu domba orangtuanya.
2. Terlalu fokus pada waktu keluarga
Memang, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga adalah hal baik, tetapi ada keluarga tertentu yang terlalu mengultuskan hal ini. Padahal, ada kalanya si anak ingin merayakan waktu pribadi dengan orangtuanya, hanya berduaan atau bertigaan. Waktu berduaan dan pribadi bisa menjadi hal menyenangkan bagi anak dan orangtuanya karena tak ada persaingan di antara saudara kandung. Cara yang bisa mengikat hubungan orangtua adalah bermain bersama.
3. Terlalu sering menawarkan bantuan
Beberapa orangtua menganggap si anak balita masih seperti bayi yang belum mengerti banyak hal sehingga mereka lebih sering memberikan bantuan untuk segala macam. Sebelum menawarkan bantuan, pikirkan kemungkinan bahwa si anak akan berpikir bahwa memberikan bantuan kepada si kecil, itu berarti ia tak bisa melakukannya sendiri. Dengan kata lain, si kecil tak berkompeten. "Orangtua yang menawarkan terlalu banyak bantuan kepada anak balitanya bisa menyabotase kemampuan anak untuk percaya akan kemampuan dirinya sendiri," terang Betsy Brown Braun, penulis You're Not the Boss of Me. Kita harus membuat anak mampu berjuang sendiri. Tentu tak ada salahnya memberikan pujian dan dorongan, seperti mengatakan, "Kamu pasti bisa melakukan hal ini."
4. Terlalu banyak bicara
Perlu diingat, anak balita bukanlah orang dewasa dalam tubuh kecil. Mereka belum paham bagaimana cara berpikir dengan logika. Bayangkan, jika anak berusia 2 tahun minta kue, dan si orangtua menjawab "tidak", lalu si anak merengek, si ibu menjelaskan bahwa sudah saatnya makan malam, si ibu pun menarik kuenya, lalu mencoba menjelaskan lagi, dan si anak pun merampas, lalu berulang terus.
Yang seharusnya dilakukan orangtua adalah setelah memberi tahu si anak untuk melakukan sesuatu, jangan memaksa untuk menjelaskan segalanya atau mencoba melakukan kontak mata. Jika si anak tak mau mematuhi, berikan peringatan dengan kata-kata sedikit atau hitung hingga 3. Jika si anak masih melanggar, lakukan time out atau konsekuensi langsung. Tanpa penjelasan!
5. Hanya menghidangkan makanan khusus anak
Si kecil sulit diberikan makanan orang dewasa? Atau ia hanya mau makan makanan ringan untuk anak-anak? Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan. Cobalah mengajak anak mengonsumsi apa yang Anda makan di meja makan jika ia seharusnya sudah siap makan makanan berat. Banyak anak sudah mau mencoba makanan baru jika ia melihat ayah dan ibunya menikmati makanan itu. Jika ia menolaknya, tetap sodorkan kembali. Beberapa anak balita harus mencoba banyak tipe makanan hingga mereka memutuskan mereka menyukai makanan itu.
Braun mengatakan, banyak anak suka keributan gara-gara makanan. Asalkan ada makanan pada piring si anak, jangan khawatir. Jangan biarkan si anak menjadikan Anda koki khusus untuknya yang menyajikan makanan berbeda daripada yang lain, padahal ia sudah bisa mengonsumsi makanan yang sama dengan orang dewasa.
6. Terlalu dini menyingkirkan tempat tidur bayi
Tempat tidur khusus untuk bayi bukan hanya dibuat untuk menjaga keamanan si bayi saat tertidur, tetapi juga untuk membuat kebiasaan tidur yang sehat. Saat anak terlalu dini dipindahkan ke kasur, mereka bisa sulit tidur, kadang di pengujung malam, mereka akan datang ke kamar orangtuanya, minta ditemani. Saat yang tepat untuk memindahkan anak ke tempat tidur besar adalah saat ia sudah mulai memanjat ingin keluar dari tempat tidurnya atau saat ia sudah minta keluar dari tempat tidurnya tersebut. Kebanyakan anak sudah siap pindah di antara rentang usia 2-3 tahun.
7. Memulai latihan menggunakan toilet terlalu awal
Beberapa orangtua memaksa anaknya menggunakan toilet saat dirasa si anak harusnya sudah belajar, padahal bisa saja si anak belum mau, dan ini bisa mengakibatkan tarik ulur kekuatan. Anak akan belajar menggunakan toilet saat mereka siap dan prosesnya tidak harus diburu-buru. Namun, Anda bisa siapkan langkah-langkahnya. Tunjukkan toilet kepada anak, beri tahu fungsinya dan cara penggunaannya. Beri pujian jika si anak mau mencoba menggunakannya.
8. Tidak membatasi jam nonton televisi
Banyak anak balita menghabiskan waktunya untuk menonton televisi. Hal ini bisa membuatnya sulit belajar. Studi mengatakan bahwa anak di bawah usia 2 tahun sebenarnya belum paham apa yang ditayangkan di televisi atau monitor komputer. Coba buat si kecil sibuk dengan kegiatan lain, seperti membaca bersama atau kegiatan kreatif lainnya. Coba lakukan perbincangan dan mendengarkan agar si kecil bisa belajar berkomunikasi.
9. Mencoba menghentikan rengekan besar
Beberapa orangtua khawatir, jika si anak yang tak bisa diatur akan membuatnya terlihat seperti orangtua yang tidak efektif. Namun, ada kalanya si anak akan melakukan rengekan besar. Ketika mereka melakukan hal tersebut, percuma kita meminta mereka berhenti melakukannya, bahkan jika hal tersebut terjadi di depan orang banyak.
"Saat tantrum terjadi di depan orang banyak, kita akan merasa seperti dihakimi. Kita merasa ada papan neon di atas kita yang mengatakan bahwa kita adalah orangtua yang tak kompeten," ungkap Braun. Padahal, para orangtua harusnya ingat, yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada si anak, bukan pendapat orang lain, apalagi orang asing. Jika ini terjadi, cobalah membawa si anak ke lokasi yang sepi agar si kecil berhenti berteriak dan mengeluarkan emosinya. Ketika hal ini selesai, Braun menyarankan agar Anda menawarkan pelukan untuk si anak dan jalani lagi hari Anda.
Anak yang berlaku sopan tentu tidak didapat begitu saja. Sebagai orangtua Anda perlu mengarahkan dan mengajarkan anak nilai-nilai yang penting, seperti sopan santun, berbagi, berempati, serta membantu orang lain. Pola pengajaran yang tepat bukanlah melalui nasihat, melainkan lewat contoh tindakan. Untuk itu sebagai orangtua Anda harus konsisten berperilaku santun karena orangtua merupakan role model bagi anak.
Mengajar tata krama haruslah dimulai dari rumah dan ini menjadi tugas para orangtua. Sejak mula, biasakan anak untuk mengucapkan "terima kasih" atau "tolong" saat meminta bantuan. Berikut beberapa jenis "pelajaran" tata krama yang disesuaikan dengan usia anak.
Usia Balita
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Mengucapkan kata-kata sapaan, seperti selamat pagi, halo, sampai jumpa, atau terima kasih.
- Makan menggunakan sendok garpu.
- Mencium tangan.
- Melepas sepatu di dalam rumah atau di atas sofa dan tempat tidur.
Usia 5 tahun
- Memberi salam pada orang yang ditemui.
- Menatap wajah orang yang diajak bicara.
- Makan di meja makan.
- Tidak boleh makan sambil mencecap lidah.
- Meminta izin bila ingin memakai barang orang lain, misalnya mainan temannya.
- Tertib mengantre dan menunggu giliran.
- Bila si kecil menggigit untuk mengekspresikan rasa marah dan frustasi, saat ia mulai menggigit, pegang tangannya dan katakan bahwa ia tidak boleh berbuat demikian. Balita berusia satu tahun sudah mengerti apa yang Anda ucapkan. Jelaskan mengapa Anda melarangnya melakukan sesuatu.
- Saat ia sudah tenang, ajari si kecil untuk meminta maaf pada orang yang digigitnya. Tujuannya adalah untuk mengasah empati anak.
- Bila hobi menggigitnya dilakukan untuk menarik perhatian Anda, mungkin Anda perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk bermain bersamanya. Namun, jangan langsung meladeninya begitu ia mulai menggigit. Biarkan ia tenang dulu, agar anak tidak memanipulasi Anda.
- Bila ada tanda-tanda ia mulai ingin menggigit, alihkan perhatian si kecil pada hal lain. Ajak ia untuk bermain atau bernyanyi. Jangan lupa untuk memuji si kecil bila ia bersikap baik dan tidak menggigit.
Senin, 09 Agustus 2010
"mamah, kapan puasa?"
Lirik Lagu ” Arti Puasa “
Artis ” Tasya “
Puasa Tidak Makan
Puasa Tidak Minum
Sejak Subuh Sampai Magrib
Apakah Arti Puasa
Puasa Menahan Lapar
Puasa Menahan Haus
dan Menjaga Perilaku
Allah Sangat Suka
Allah Sangat Senang
Bagi Anak Puasa
Diberi Pahala
Ditempatkan Allah Dalam Syurga
Apakah Arti Puasa
Puasa Tidak Makan
Puasa Tidak Minum
Sejak Subuh Sampai Magrib
Apakah Arti Puasa
Puasa Menahan Lapar
Puasa Menahan Haus
dan Menjaga Perilaku
Allah Sangat Suka
Allah Sangat Senang
Bagi Anak Puasa
Diberi Pahala
Ditempatkan Allah Dalam Syurga
Apakah Arti Puasa
Puasa Tidak Makan
Puasa Tidak Minum
Sejak Subuh Sampai Magrib
Apakah Arti Puasa
Puasa Menahan Lapar
Puasa Menahan Haus
dan Menjaga Perilaku
Kamis, 08 Juli 2010
Natsu camp KMI
| Start: | Jul 24, '10 01:00a |
| End: | Jul 25, '10 |
| Location: | Around Nagoya |
juga untuk anak^anak SD Bhinneka.
Rabu, 10 Maret 2010
Kids' Games, Animals, Photos, Stories, and More -- National Geographic Kids
National Geographic for kids.
rasanya udah pernah link atau bookmark.. redundant ga pa pa deh ^o^
Minggu, 07 Maret 2010
Pendidikan rumah untuk anak usia TK
Dari Mba Dina@milis Fahima (banyak paste dari Mba Dina nih, biar ga lupa, hehe.. yoroshiku)
http://notesdina. wordpress. com/2009/ 12/04/kurikulum- hs-anak-usia- tk-2/
Panduan pendidikan rumah untuk anak usia TK. Diambil dari buku Learn at Home, Grade K (American Education Publishing). Terjemahan bebas oleh Dina Faoziah.
BAHASA
Puisi dan Musik
Perkenalkan puisi kepada anak Anda. Perkenalkan rima dan kata-kata puitis. Ajak anak mendengarkan puisi, menyebut kata yang berima di dalam puisi tersebut, atau menyempurnakan puisi dengan kata berima. Anda juga bisa mengajaknya menulis puisi sederhana.
Cobalah menjadikan musik sebagai bagian kehidupan Anda sehari-hari. Ciptakanlah lagu atau gerakan untuk membantu anak Anda belajar suatu hal baru atau membantunya mengingat sesuatu yang telah ia pelajari. Musik juga bisa digunakan sebagai tanda perubahan kegiatan, waktu beristirahat, atau waktu makan kudapan. Pinjamlah CD musik dari perpustakaan setempat.
Menyimak/Berbicara
Ajarilah anak Anda untuk menatap mata lawan bicara saat mengobrol. Sampaikanlah etiket yang benar, yakni menyimak baik-baik apa yang dikatakan lawan bicara. Juga etiket yang buruk, yakni berbicara dengan mulut penuh, menyela lawan bicara, dan menyelesaikan kalimat lawan bicara padahal tidak diminta. Anda juga harus menunjukkan contoh yang baik dengan cara mendengarkan ketika anak Anda berbicara.
Mengikuti Petunjuk
Berilah 2-3 petunjuk mudah untuk dikerjakan anak Anda. Jika ia berhasil mengerjakannya, berilah 4 petunjuk. Mengikuti petunjuk memerlukan kemampuan menyimak. Jika anak Anda belum berhasil mengikuti petunjuk, pastikanlah bahwa perhatiannya tertuju kepada Anda. Petunjuk bisa disampaikan dalam berbagai wujud, misalnya gambar, sajak, atau lagu pendek. Masukkan kata-kata kunci ke dalamnya.
Berpikir
Anak-anak menyukai teka-teki, lelucon, dan pelesetan. Mintalah anak Anda membuat cerita sendiri dan menceritakannya. Anda bisa merekamnya dengan video saat anak Anda bercerita. Anda juga bisa meminta anak Anda bercerita, sedangkan Anda yang menuliskannya. Lalu mintalah anak Anda membuat ilustrasi pada setiap halaman. Jadilah buku cerita!
MEMBACA
Alfabet
Mengenali huruf kecil dan huruf besar. Anak Anda bisa berlatih menulis atau bermain mencocokkan huruf kecil dan huruf besar dengan lembar kerja atau alat bantu lainnya.
Bunyi
Anda bisa membimbing anak Anda mengenali dan membedakan bunyi-bunyi pada huruf.
Membacakan buku
Membacakan buku dengan suara keras kepada anak Anda akan memupuk keinginannya untuk belajar dan membaca. Ketika Anda membacakan sesuatu kepada anak Anda, sebenarnya Anda tengah mengembangkan kemampuan-kemampuan berikut pada anak Anda: menyimak, mengapresiasi bacaan, memahami, dan berpikir kritis.
MENYIMAK
Apresiasi
Bacakanlah buku bab (chapter book) kepada anak Anda. Buku-buku ini merupakan contoh bacaan yang bagus dan bisa meningkatkan apresiasi anak Anda terhadap cerita yang ditulis dengan apik.
Berpikir kritis
Anda bisa meminta anak Anda membuat akhir cerita dari cerita yang telah ia ketahui. Anda juga bisa meminta anak Anda menjadi “guru” dan menanyai Anda tentang apa yang telah dibaca bersama.
Pemahaman
Saat membacakan cerita baru, sampaikan kepada anak Anda tentang topiknya. Hal ini membantu memfokuskan anak Anda pada kegiatan menyimak dan membantunya mengingat detail yang penting dari buku tersebut. Anda bisa menutup cerita dengan melontarkan pertanyaan yang amat sederhana tentang cerita tersebut. Bila perlu Anda bisa mengulangi membaca beberapa bagian atau halaman yang penting.
Anda bisa membantu anak Anda mengungkapkan apakah cerita yang baru saja dibacanya itu rekaan atau nyata. Anda bisa memberi contoh, misalnya “Anjing tidak menyetir” untuk kisah rekaan dan “Kita juga berbelanja” untuk kisah nyata.
MATEMATIKA
Bentuk
Anak-anak melihat bentuk di lingkungan sekitarnya. Bantulah ia mengenali bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, bujur sangkar, persegi panjang, segitiga, dan bintang dari benda-benda yang ada di dalam rumah atau di luar rumah. Anak Anda akan menikmati penerapan konsep bentuk yang ia pelajari ini dalam berbagai cara.
Angka
Bantulah anak Anda mengenali dan menghitung 1-100. Anak Anda juga bisa mempelajari bilangan tingkat, misalnya pertama sampai kesepuluh.
Penambahan/Penguran gan
Anda bisa menggunakan benda-benda di sekitar untuk mengajarkan konsep penambahan/penguran gan kepada anak Anda.
Urutan
Bantulah anak Anda memahami konsep urutan dengan mengaitkannya dengan pengalaman pribadinya. Misalnya, mengobrol tentang apa yang dialami anak Anda hari ini secara kronologis.
Konsep Dasar
Konsep ruang, yakni “di samping”, “di belakang”, “di antara”, “di atas”, dan “di bawah” perlu dipupuk pada anak. Konsep ini berdasarkan pada bahasa. Anda bisa bermain posisi dengan anak Anda dengan bantuan benda lain dan memintanya menceritakan posisinya.
Sedangkan konsep kuantitatif, seperti “penuh”, “kosong”, “kurang”, dan “lebih”, berdasarkan pada matematika.
Mengukur/Memperkira kan/Uang
Mungkin anak Anda telah memahami konsep “lebih/kurang”, “angka perkiraan”, dan “penuh”. Anda bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saat berbelanja Anda bisa mengajak anak Anda ke rak buah dan mengamati buah-buahan yang ada di situ. Saat makan Anda bisa mengajak anak Anda mengamati makanan di dalam piringnya. Anda bisa mengenalkan uang kepada anak Anda. Anda bisa bermain menghitung uang bersama anak Anda dan memintanya “membeli” barang.
SAINS
Mengamati
Anak Anda bisa belajar tentang benda-benda yang ada di sekitarnya. Anak Anda juga bisa memperhatikan perubahan pada benda/makhluk tertentu. Anda bisa memintanya menceritakan perbedaan di antara benda-benda yang ia amati.
Membandingkan dan Mengklasifikasikan
Bantulah anak Anda mengembangkan kemampuan untuk mengamati kemiripan dan perbedaan pada benda-benda tertentu. Anda bisa melakukannya secara bertahap, pertama-tama kemiripan dan perbedaan yang kentara, selanjutnya yang lebih rumit. Mengklasifikasikan bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya, mintalah anak Anda mengategorikan benda-benda berdasarkan warna, lalu ukuran. Anda juga bisa meminta anak Anda mendaftar kemiripan dan perbedaan antara dua hewan peliharaan atau dua teman.
Mempertanyakan/ Memprediksi
Saat anak Anda menanyakan sesuatu, Anda bisa membantunya menemukan jawaban dengan memberikan rujukan atau melontarkan pertanyaan yang berkaitan. Bantulah anak Anda menemukan hubungan antara penemu dan keberhasilan mereka. Bagaimana temuan mereka berpengaruh terhadap umat manusia?
Menganalisa
Ajak anak Anda menganalisa hasil percobaan yang sederhana dan bimbinglah anak Anda ke kesimpulan dasar. Jika eksperimen tersebut membuat anak Anda bertanya lebih banyak, bantulah ia mendesain eksperimen baru untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Membuat Bagan/Grafik
Pencatatan dengan bagan/grafik merupakan alat analisa informasi yang menarik dan praktis. Anak Anda mungkin menikmati mencatat cuaca setiap hari atau membandingkan hasil percobaannya. Anda bisa membantu menuliskan informasi pada bagan/grafik sambil terus mendorong anak Anda menyediakan informasi atau mencoba menuliskannya sendiri.
STUDI SOSIAL
Merawat Diri Sendiri
Perkenalkan konsep gizi seimbang kepada anak Anda. Bantulah anak Anda menentukan makanan (dan kudapan) yang baik untuk keseimbangan gizinya. Tanamkanlah kebiasaan hidup sehat sehingga anak Anda menyadari pentingnya menjaga kesehatan dirinya. Beritahulah bahwa anak Anda spesial bagi Anda.
Berteman
Berikanlah contoh yang baik bagaimana berinteraksi dengan orang lain, baik dengan keluarga sendiri maupun dengan orang lain. Doronglah anak Anda untuk mengundang teman ke rumah. Ini merupakan kesempatan bagus untuk mempraktikkan kesopanan dan mengajarkan konsep berbagi. Anda bisa mengevaluasi dan (bila perlu) memperbaiki kekeliruan anak Anda.
Kesopanan/Tanggung Jawab
Tunjukkanlah sikap yang baik agar anak Anda belajar dari Anda. Saat makan di meja makan bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengajarkan kesopanan, misalnya mengucapkan “tolong” dan “terima kasih”. Bantulah anak Anda menyadari bahwa semua orang punya tanggung jawab, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Mencintai Bumi
Ajarilah anak Anda agar bertanggung jawab terhadap lingkungan alam. Doronglah anak Anda untuk berpartisipasi dalam aktivitas komunitas yang berfokus pada kecintaan alam. Diskusikan dengan anak Anda langkah-langkah yang dapat ia tempuh untuk mencintai bumi, seperti mendaur ulang benda, menjaga sumber daya alam, dan memunguti sampah.
Anak-anak di Dunia
Bantulah anak Anda mengembangkan toleransi terhadap sesama manusia. Bacalah bahan tentang masyarakat di provinsi lain. Pelajari adat istiadat dan tradisi di negara lain. Sampaikanlah kepada anak Anda bahwa kita harus tetap menghormati orang lain walaupun penampilan atau kebiasaan mereka berbeda.
Tokoh-tokoh Negara
Perkenalkan anak Anda kepada tokoh-tokoh ternama dan apa yang mereka lakukan. Melalui pengalaman para tokoh tersebut, anak Anda akan belajar bahwa masalah tidak selalu berujung pada kegagalan.
KEMAMPUAN MOTORIK KASAR DAN HALUS
Melatih kemampuan motorik kasar
Anda bisa mengajak anak Anda berlari-lari, berenang, menari, dan olahraga atau gerakan apapun yang menggunakan otot besar. Anda bisa menggabungkan aktivitas ini dengan membaca puisi atau kegiatan lainnya. Berjalan-jalan di luar rumah pun bermanfaat untuk mengenalkan lingkungan kepada anak Anda.
Melatih kemampuan motorik halus
Banyak aktivitas yang bisa dilakukan untuk melatih kemampuan motorik halus, misalnya menulis, memotong, melipat, dan menumpuk balok-balok mainan.
Senin, 23 November 2009
Club Penguin - Waddle around and meet new friends!
Link dari Mba Devi *arigatou!*
Sabtu, 21 November 2009
Kids' portal of joy & knowledge:
Kids' portal of joy & knowledge: For children to explore, discover, learn, play & enjoy... |Pitara Kids Network.
Bikinan India, asik juga
Geography For Kids - By KidsGeo.com
Ini untuk belajar geograpfi bagi anak2. Yang bkin persisnya siapa, ga tau, tapi isinya OK!
For Kids- Earth Science Enterprise, from USGS
Wawasan Ilmu Bumi dari USGS (United State Geological Survey).
Link bagus dan terpercaya untuk sumber belajar mengenai bumi.
Water Cycle diagram - for kids!
From USGS (United State Geological Survey)
The Water Cycle—For Kids
The water cycle is vitally important for every person in the world—from a great grandmother in Nepal to a newborn crying in his crib in Omaha, Nebraska (and to YOU, too). The water cycle is a basic scientific concept that is taught even in elementary schools and is one of the first environmental concepts that children learn. Although the great grandmother might understand our main water-cycle diagram, it might be a bit too complex for young children.
So, if you're trying to find a simpler diagram of the water cycle, we have just what you are looking for. A company called The Straight Edge has produced a waterproof place mat about the water cycle (a description is at http://www.shopatron.com/product/product_id=SEI1330/309.0.8548.0.0.0.0); one that is meant for young children. If you have a young child at your house or in your class, just think—you can teach them about the water cycle as you are wiping up the spilled juice (which is, of course, mostly water) from this place mat. After all, juice running over the place mat can be considered runoff; if it spills on the floor, that would be freshwater storage (lake); and, if you are outside, the juice soaking into the ground is like infiltration. And, if the juice gets all over their clothes? Now, that is just a big mess, but it does provide an excellent example of capillary action!
Kamis, 19 November 2009
Mendidik Anak Anak Menurut Islam
Saturday, 11 July 2009 14:58
source: http://www.perapi.com/
Pendahuluan
Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan " Insan Rabbani" yang beriman, bertakwa dan beramal soleh.
Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.
Membentuk Dunia Kanak-kanak.
Sebelum anak-anak dilahirkan, ibubapa menyediakan tempat yang sesuai untuk membesarkan anak dengan sebaik-baiknya. Ini bermakna dunia kanak-kanak setelah dilahirkan ialah rumah ibubapa itu sendiri. Untuk mencapai kesempurnaan hidup kanak-kanak, ibu-bapa perlu membentuk suasana harmoni dan bercirikan keislaman dalam kehidupan rumahtangga terlebih dahulu.
Jika pasangan suami isteri menghayati nilai-nilai keislaman dalam kehidupan rumahtangganya, mudahlah ia mendidik anak-anaknya dengan benih-benih Islam. Sebaliknya, jika pasangan suami isteri gagal menerapkan nilai-nilai Islam dan mengekalkan kerukunan rumahtangga, sukarlah bagi mereka mentarbiyah anak-anak mengikut acuan dan budaya hidup Islam.
Atas itulah Rasulullah S.A.W mengingatkan bakal-bakal suami agar memilih bakal isteri yang mempunyai kesungguhan dan penghayataan agama, bukan kerana paras rupa, keturunan atau harta semata-mata. Sabda Rasulullah yang bermaksud:
"wanita dikahwini kerana empat perkara, iaitu kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama kerana ia menguntungkan kamu(lebih utama)"
Ketika Anak Dalam Kandungan
Proses pendidikan mula berlaku ketika bayi masih berada dalam kandungan ibunya. Pendidikan pada peringkat ini lebih bercorak kerohanian, iaitu:
- Bagi ibu-ibu yang mengandung digalakkan supaya memper-banyakkan bacaan Al-Quran terutama surah Yusuf, Mariam, Luqman dan At-Taubah.
- Ibu hendaklah sentiasa berdoa kepada Allah S.W.T agar anak yang bakal dilahirkan itu nanti menjadi seorang anak yang soleh, berilmu, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
- Ibu bapa hendaklah mendapat rezeki daripada sumber yang halal supaya benih yang bakal dilahirkan itu nanti datang daripada darah daging yang halal.
- Ibu hendaklah makan makanan yang berzat dan sentiasa menjaga kesihatan tubuh badannya. Kebersihan diri hendaklah diutamakan bagi menjamin kesihatan anak-anak dalam kandungan. Faktor kesihatan amat dititik beratkan oleh Islam sehingga Islam memberikan kelonggaran kepada ibu yang mengandung untuk berbuka puasa sekiranya merasakan puasa itu menjejaskan kesihatan diri dan anaknya.
- Ketika mengandung, ibu perlulah menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang berlaku kepada dirinya. Pada waktu begini sememangnya keadaan ibu agak berbeza dari waktu - waktu biasa, terutamanya bagi ibu yang bakal melahirkan anak yang pertama. Mungkin selera makannya hilang, perasaan agak terganggu(sensitif) dan hatinya boleh berdebar-debar kerana bayi dalam kandungannya itu adalah sebahagian daripada dirinya. Ketika ini para suami hendaklah lebih memahami keadaan isteri serta memberi dorongan yang kuat kepadanya
Setelah anak dilahirkan, hendaklah segera diazankan telinga kanannya dan diiqamatkan telinga kirinya.
Abu Rafi meriwayatkan sebuah hdis yang bermaksud:
"Aku melihat sendiri Rasulullah S.A.W mengazankan Hasan B. Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah r.a" (Riwayat Abu Daud dan Termizi)
Sebagai suapan yang pertama, sunat bayi disuapkan dengan manisan seperti madu dan kurma. Abu Musa Al Asyari r.a. dalam sebuah riwayat mengatakan:
"Isteriku melahirkan seorang anak. Bayi itu ku bawa kepada Rasulullah S.A.W.. Baginda menamakannya Ibrahim, kemudiannya disuap dengan buah kurma(yang telah dilumatkan) setelah itu baginda mendoakan keberkatan baginya lalu bayi itu diserahkan kembali kepadaku". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Pada hari ketujuh kelahirannya, ibu bapa disunatkan bersedekah dengan melakukan ibadah aqiqah untuk anaknya. Seekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak lelaki. Rambutnya pula sunat dicukur keseluruhannya supaya kepalanya bersih, otaknya cergas dan rambut barunya tumbuh dengan subur dan sihat.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
"Setiap anak yang baru dilahirkan bergantung kepada aqiqahnya. Hendaklah diaqiqahkan dengan menyembelih kambing pada hari ke tujuh, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya". (Riwayat Abu Daud, Termizi dan Nasa)
Bagi ibu yang menyusukan anak, ia perlu makan makanan yang halal, bersih, dan berzat. Ketika menyusukan anak, hatinya hendaklah selalu mendoakan kejayaan anaknya. Ketika hendak tidur, dodoikan (lagukan) dengan kalimah memuji Allah dan Rasulnya seperti nasyid dan sebagainya.
Apabila anak sudah mulai pandai bercakap, hendaklah membiasakannya dengan percakapan yang baik-baik seperti selawat, zikir dan lain-lain perkataan yang seumpamanya.
Peringkat Umur antara 5 hingga 7 tahun.
Pada peringkat umur antara 5-7 tahun, memerlukan teknik pendidikan yang lebih luas dan menyeluruh. Pengisian antara keperluan rohani dan jasmani perlu didedahkan serentak dan diseimbangkan. Teknik pembelajaran dan pengajaran perlu menggunakan kaedah yang sesuai kerana kanak-kanak biasanya akan belajar(mengikut) berdasarkan pemerhatian iaitu apa yang dilakukan oleh individu disekelilingnya terutama ahli keluarganya.
Menurut pandangan Islam, pada peringkat ini anak-anak wajar didedahkan dengan latihan menulis, membaca, mengira dan berbahasa. Pendidikan yang wajar didedahkan pada peringkat ini ialah bab ibadah dan akhlak. Misalnya kanak-kanak yang baru meningkat umur mumayyiz hendaklah dilatih mendirikan sembahyang. Seterusnya adab-adab yang mulia hendaklah mula diterapkan dalam bentuk latihan amali seperti:
- Mendidik anak supaya taat dan beradab kepada kedua ibubapanya; timbulkan kesedaran kepada mereka bahawa pengorbanan ibubapa terhadapnya adalah amat besar dan mereka perlu bersyukur kerana menjadi anak yang masih mempunyai kedua ibubapa. Ini dapat mengeratkan hubungan mesra, rasa kasih sayang antara ahli keluarga.
- Mengajar anak supaya taat dan beradab kepada guru dan orang yang lebih tua daripadanya; guru merupakan orang yang bertanggungjawab mendidik dan menyampaikan ilmu manakala orang yang lebih tua adalah orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripadanya.
- Mengajar anak bercakap atau bergaul dengan baik; anak-anak hendaklah dilatih bercakap benar, sopan santun dan mengucapkan perkataan yaang baik-baik. Kanak-kanak biasanya begitu sensitif dengan pendengarannya, ia mudah terikut-ikut dengan apa yang didengarnya. Sebab itu jika ibubapa mahu menegur atau memarahi mereka, hendaklah menggunakan bahasa yang paling sopan bukannya dengan bahasa yang kesat, kasar dan keras.
- Mengajar anak-anak adab bergaul dengan rakan-rakan; anak-anak harus dinasihatkan agar tidak berbangga atau meninggi diri di hadapan rakan sebayanya, jangan sekali-kali menyakiti atau mengambil hak orang lain .
- Mengajar anak adab makan minum yang baik; sifat atau sikap yang tidak sopan seperti gelojoh ketika makan hendaklah ditegah, sebaliknya anak-anak dilatih dulu dengan adab-adab makan seperti mencuci tangan, duduk dengan sopan serta berdoa sebelum dan sesudah makan.
- Mengajar anak adab berpakaian; pakaian yang dipilih hendaklah menutup aurat dan bukan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain.
- Mengajar adab dan bangun daripada tidur; sebaiknya hendaklah mengadap qiblat, membersihkan diri sebelum dan selepas bangun daripada tidur.
- Mengajar anak adab masuk dan keluar tandas, anak-anak perlu diajar cara membuang air kecil/besar dan cara masuk ke dalam tandas seperti membaca doa, menutup kepala,membelakangkan qiblat dan sebagainya.
Anak-anak merupakan amanah Allah yang perlu dididik dengan sebaiknya sejak ia kecil lagi supaya apabila besar kelak menjadi anak yang soleh dan sentiasa taat kepada kedua ibubapanya. Mereka ibarat kain putih dan ibubapa lah yang berperanan mencorak dan melukiskannya dengan warna-warna menarik yang menjadi amalan sholeh.
Mama, Gimana bisa ada Pasir?
"Mama, gimana bisa ada pasir?"
"Diciptakan Allah" *jawaban paling gampang*
"Iya, tapi gimana bisa ada pasir?"
Belakangan ini Zahra sering bertanya dengan "Bagaimana bisa ada ~"
Salah satu yang terus menerus ditanyakan Zahra adalah bagaimana bisa ada pasir?
Mulai bertanya sekitar 2 minggu yang lalu saat ayahnya pergi ke aceh, Mamahnya ngga bisa ngasih jawaban yang memuaskan, sempet Ua Devi ke rumah, tiba2 Zahra nanya lagi tentang pasir ini, trus waktu ayahnya pulang, nanya lagi ke ayahnya. Ternyata masih belum puas juga, tadi pagi nanya lagi ke Mamahnya..
bingung dehh.. bagaimana ya bisa ada pasir?
nyari di internet belum nemu jawaban yang bisa menjawab pertanyaan anak..
ada yang bisa bantu??
perlu jawaban serius nihh...
Rabu, 28 Oktober 2009
Pendidikan rumah untuk anak Balita
Kurikulum HS Anak Usia TK
http://notesdina. wordpress. com/2009/ 07/30/kurikulum- hs-anak-usia- tk/
Tolong! Adakah yang punya kurikulum mingguan homeschool untuk anak usia TK?
Begitu bunyi pertanyaan seorang anggota milis HSC.
Jawaban pertama: TK bukan kewajiban di California. Jadi nggak perlu melakukan apapun. Saya pikir anak 5 tahun perlu belajar dengan cara bermain-main dan membaca buku dengan orang tuanya, bermain, memasak, bepergian, bermain, bermain, dan bermain. Saya sendiri tidak akan membuat jadwal apapun. Akan banyak masa saat anak kita punya jadwal, jadi saya rasa tahun-tahun yang pendek inilah saat untuk membiarkan anak tetap sebagai anak. Jadwal anak umur 5 tahun: tidur, makan, bermain, membaca, memasak, bermain, membaca, jalan-jalan, bermain, tidur siang, makan, bermain, bermain, membaca, mandi (dan bermain-main dengan air), membaca, tidur.
Jawaban kedua: Keluarga kami tidak punya banyak jadwal, tapi kami punya rutinitas: bangun, berpelukan, makan pagi, beres-beres, membaca, dll. Mungkin Anda bisa membuat rencana seperti ini. September: memanen sayur-sayuran dari kebun sendiri, mengumpulkan dedaunan yang indah, memandangi daun yang ditiup angin. Oktober: berhujan-hujan, membersihkan daun yang berguguran, terjun ke tumpukan daun, membuat kue pai dari lumpur, membuat minuman cokelat panas, membuat kue. Saya bisa memerinci pelajaran yang didapat dari aktivitas-aktivitas tersebut, tetapi hal itu akan merampas kesenangan yang Anda rasakan bersama anak.
Jawaban ketiga: Setuju dengan jawaban-jawaban di atas. Saran saya: pergilah ke perpustakaan seminggu sekali dan bacakan buku-buku baru kepada anak Anda, baik buku fiksi maupun nonfiksi. Atau pinjamlah CD musik di perpustakaan, putarlah sebagai musik latar saat anak berkreasi dengan seni (kertas, lem, malam, pensil warna, krayon). Yang paling penting adalah kehadiran orang tua untuk menjawab pertanyaan-pertanya an yang diajukan oleh anak berusia 5 tahun.
Jawaban keempat: Anak saya yang berusia 5 tahun suka belajar tentang penulis. Kalau ada buku yang ia sukai, kami akan mencari semua buku yang dikarang oleh penulis atau ilustrator yang sama. Seminggu sekali kami pergi ke perpustakaan. Jadwal mingguan kami yang lain adalah bermain rollerskate dan bertemu di taman dengan komunitas sekitar. Anak saya juga suka peralatan sains sederhana. Anak saya juga menyukai permainan: Uno, Sorry, Chess, Blokus, Jenga, Monoploy Jr, Clue, dan Mancala. Kami juga memasak bersama-sama. Anak saya bertanggung jawab atas hewan peliharaan kami dan dia juga bermain-main dengan lego. Saya memang menyediakan banyak lembar kerja (huruf, bunyi/phonics, matematika), tetapi saya tidak memaksa anak saya mengerjakannya.
Jawaban kelima: Saat anak saya berumur 5 tahun, yang kami lakukan tidak jauh-jauh dari makan, tidur, bermain, dan sebuah aktivitas besar (kelas, pergi ke taman, janjian bermain dengan teman). Ah, pergi untuk suatu keperluan juga termasuk di dalamnya. Saya biasanya menyediakan lembar kerja, buku puzzle, buku aktivitas, dll. untuk dikerjakan di dalam mobil. Jadi, saya dan anak saya sering berada di luar, bereksplorasi, bertemu dengan orang, mengunjungi tempat-tempat baru, dan berkat itulah anak saya mengerti tentang dunia tempat ia hidup. Anak saya juga mengikuti kelas untuk anak pra-sekolah seminggu sekali selama 2 jam. Selain itu kami menghadiri acara mendongeng, pergi ke tempat bermain, dll.
Jawaban keenam: Silakan baca kumpulan artikel di sini: http://besthomescho oling.org/ gateway/inted16. html. (df)
***
Kurikulum HS Untuk Anak 3 Tahun (dengan suntingan)
http://notesdina. wordpress. com/2009/ 05/26/kurikulum- hs-untuk- anak-3-tahun/ (versi lengkap)
Ala Mbak Cahyani, dari milis sekolahrumah. Mbak Cahyani menulis, ini program untuk 1 tahun ke depan, dalam kenyataannya tentu menyesuaikan dengan kemampuan anak.
1. AlQur'an: Menghafal Al-Fatihaah, Menghafal An-Naas, Mulai Iqro 1, Menghafal Al-Ikhlas, Iqro 2, Menghafal Al-Falaq
2. Membaca: Mengenal Alfabet, Merangkai suku kata, Membaca kata, Membaca kalimat
3. Matematika: Mengenal konsep jumlah, Menjumlah & Mengurangi, Mengenal simbol angka, Membaca jam, Mengenal nilai uang
4. Akhlak/Kebiasaan baik: Buang sampah di tempatnya, Baca Bismillah sblm makan, Merapikan setelah bermain, Baca doa tidur, Pamit sebelum pergi main, Baca doa pergi, Membantu ketika diminta/menawarkan bantuan
5. Kemandirian: Bisa tidur sendiri, Ke toilet & berpakaian sendiri, Makan sendiri, Bikin susu sendiri
6. Sosialisasi: Bilang "Terima kasih", "Maaf", "Tolong" (bersikap baik pada orang lain), Cium tangan pada orangtua, Ikut acara-acara pertemuan, Mengucapkan salam, Memperkenalkan diri sendiri (konsep AKU), Menjawab telepon dengan benar
7. Motorik halus: Mewarnai & Menggambar, Menggunting & mengelem, Menggambar bentuk khusus, Menulis
8. Aqidah: Mengenal Allah, Mengenal Rasulullah
9. Bahasa Inggris: Face, Body, Family, House
10. Konsep: Silsilah keluarga, Konsep pagi, siang, sore, Nama hari, Nama bulan
Pagi, siang, malam tahu, sore belum tahu. Nama hari dan bulan belum tahu.
11. Olahraga/motorik kasar: Berlari, Melempar & menendang bola, Lompat satu kaki, Berenang
Selasa, 04 Agustus 2009
Bila anak mulai...
KOMPAS.com - Bila Anda pernah menonton acara Nanny 911, Anda mungkin pernah melihat tingkah laku anak-anak yang sudah mirip "monster". Mereka tidak bisa diberitahu dengan cara teguran atau pun bentakan. Anda sendiri mungkin juga pernah mengalaminya, meskipun tidak separah yang Anda lihat di televisi. Macam-macam yang mereka lakukan. Dari menolak makan, belajar, berkeras meminta sesuatu (tanpa bisa diberi pengertian bahwa Anda belum gajian), dan lain sebagainya.
Sikap anak yang menunjukkan ketidaksetujuannya pada orangtua sebenarnya sudah diawali sejak ia masih bayi. Pada umur 1 tahun, anak sudah "cukup usia" untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Cara yang digunakannya memang seringkali berbahaya, berantakan, atau bisa menciderainya, sehingga membuat orangtua khawatir. Namun pada usia ini sebenarnya anak bukannya sedang membangkang. Mereka hanya perlu mendengarkan instruksi Anda berulang kali.
Saat anak sudah lebih besar, perilakunya memang cenderung berubah menjadi pembangkang, karena ia sudah lebih tahu apa yang diinginkannya. Repotnya, menurut Duane Alwin, sosiolog dari Penn State University, pada masa sekarang orangtua kurang memberikan nilai-nilai kepatuhan pada anak, demikian juga keselarasan, dan menghargai wewenang orangtua. Orangtua lebih tertarik membantu anak mempelajari hal-hal seperti toleransi dan kemandirian. Pada penelitian lain, Leon Kuczynski, psikolog dari University of Guelph di Ontario, Canada, mengatakan, orangtua modern ingin membesarkan anak dengan dasar membangun hubungan, sehingga mereka memilih tidak menerapkan disiplin yang tegas.
Menurut Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd, sebenarnya yang perlu dilakukan orangtua adalah mengembangkan situasi yang positif untuk anak. Bila anak menjadi menjengkelkan, biasanya hal ini disebabkan orangtuanya yang menjengkelkan mereka. Jadi, yang harus berubah lebih dulu adalah orangtua. "Sebaiknya, saat Anda sedang jengkel, jangan mengurusi anak. Biarkan Anda tenang dulu, melakukan recovery," ujar Pak Arief, seperti disampaikannya dalam seminar "Mengatasi Perilaku Menjengkelkan pada Anak", Jumat (24/7), di Jakarta Convention Center.
Pengamat pendidikan ini menekankan, anak hadir karena keinginan orangtuanya. Karena itu, orangtua tidak boleh enggan bekerja keras dan mudah menyerah dalam mendidik anak. Bahkan, orangtua yang bekerja pun harus selalu ingat bahwa dirinya harus mampu menyeimbangkan diri antara tugas sebagai ibu (atau ayah) dan sebagai wanita karir. Dasar untuk menjalankan kehidupan yang seimbang adalah dengan menetapkan aturan. Sampaikan peraturan tersebut pada anggota keluarga yang lain; bila perlu, tuliskan. "Jangan menganggap semua orang yang ada di sekeliling kita mengerti aturan yang kita tetapkan (jika kita tidak pernah menyampaikannya)," papar guru besar Universitas Negeri Jakarta ini.
Meskipun demikian, kita tidak harus selalu menyampaikan aturan tersebut dengan keras. Menyampaikan aturan yang keras kadang-kadang malah membuat anak kebal, dan mengabaikannya. Selain itu, kita memiliki otak kanan dan otak kiri yang harus dirangsang dengan seimbang. Otak kanan mengatur sikap patuh, disiplin, dan penurut. Sedangkan otak kiri lebih bebas, mendorong untuk berjalan sendiri, dan banyak bertanya.
Karena itu, bila menginginkan anak untuk melakukan sesuatu, kita tidak harus selalu menyampaikannya dengan nada perintah. Anda juga bisa memberikan dalam bentuk pertanyaan atau pilihan, misalnya, "Adek mau ikut Ibu pergi atau enggak?" Lalu jelaskan apa konsekuensi atau syaratnya, "Kalau mau ikut, habiskan dulu makanannya, ya?"
Tips mendisiplinkan anak:
*Jangan memukul. Hal ini memberikan pesan bahwa menggunakan kekuatan (fisik) diperbolehkan. Lagipula, anak belum bisa memahami hubungan antara respons Anda dengan kesalahannya.
*Jangan terlalu sering mengatakan "tidak" atau "jangan". Anak batita yang kelewat sering mendengarkan hal ini juga akan mengabaikannya, atau justru melakukan apa yang dilarang. Lebih baik Anda langsung mengatakan, "Adek, ayo matikan TV-nya."
*Jangan langsung melunak jika anak menangis. Hal ini bisa digunakannya sebagai "senjata" bila keinginannya tidak dituruti.
*Tetaplah tenang. Berteriak bisa membuat anak takut, namun hal itu belum tentu akan mengubah perilakunya.
*Berikan penghargaan saat anak berperilaku baik. Beri ciuman, pelukan, atau kata-kata pujian saat ia mendengarkan atau menuruti perintah Anda.
*Lakukan kontak mata. Hal ini menunjukkan respek dan menuntut perhatiannya.
Kamis, 16 Juli 2009
Notes Dina Faoziah
Catatannya Mba Dina, tadinya ada yang di-copy paste, lama2 jadi banyak yang mau diambi, jadi di-link aja hehe..
buat temen2 yang mau nambah2 ide untuk pendidikan anak dan banyak lagi catatan2 lainnya yang bermanfaat..mangga browsing2 *jadi ikutan ngiklan, hehe..
*Mba Dina ternyata baru link ini yahh hihihi,, passs banget mau create link ini. Thanx banget ya Mba
Minggu, 22 Februari 2009
Motor Skills and Coordination in newborn baby until 6 years
Motor Skills and Coordination
Newborn to 1 month
Most babies, by the time they reach a month of age, are able to turn or even lift their heads. Some babies are particularly skilled at this particular milestone and are even able to do so at birth. That said, it is important to remember that you always need to carefully support a newborn's head, since it will be many months before she can do it on her own.
As you explore ways to interact with your baby, keep in mind that infants this age are easily overstimulated. Even a walk around the block can seem like a day at the amusement park, and many babies will cry, become cranky, eat poorly, or not sleep well when they are overstimulated.
1 to 3 months
While all 3-month-olds still need special attention paid to supporting their heads, they definitely require less support than they did as newborns. Don't let your infant's increasing head control fool you, however — many 3-month-olds like to show off their abilities while being held, only to suddenly thrust themselves back, causing their heads to flop over.
Along with better head control, infants gradually develop the ability to hold objects in their hands (instead of just grasping things reflexively) as well as to bring their hands to their mouths.
3 to 6 months
While infants do not generally develop much fine motor control at this age, they definitely perfect their ability to bring objects to their mouths, a skill that bothers some parents, but which actually serves a great purpose. It is entirely expected that babies will explore the world around them through their mouths.
In addition, 3- to 6-month-olds are able to play with and be amused by toys put within their reach, and by 6 months, most can pass objects from hand to hand.
6 to 9 months
Babies this age not only start to imitate actions and intentionally reach for toys placed just out of reach, but they also become more skilled at transferring objects from hand to hand — not to mention banging them on a table.
While it may take a couple of months before your baby can easily pick up small objects between his thumb and first finger (known as a pincer grasp), you will probably see your child starting to try.
9 to 12 months
Babies between 9 and 12 months work on perfecting their ability to pick up small objects using their thumbs and pointer fingers. Nine-month-olds tend to do so rather crudely, whereas 1-year-olds are typically much more skilled at using a pincer grasp to get what they want. And quite often, this means getting objects to their mouths!
Your baby is also likely to get better at manipulating objects, even if they are wedged in tight spaces, as well as better at drinking from a cup (assuming you've been offering him one.)
12 to 18 months
Most toddlers are quite content to scribble with crayon on paper (and anything else that happens to be in the vicinity), to stack blocks instead of just banging them together, and to use utensils when eating. All these skills take practice, so be sure to give your toddler plenty of opportunity to do so, and don't expect perfection in the days or weeks to come.
2 years
Gross motor skills really improve over the year as a 2-year-old's strength and coordination markedly increase. Most 2 1/2-year-olds can jump off the ground with both feet, and by the time children reach their third birthday, they can typically ride a tricycle and balance for several seconds on one foot.
The period between 2 and 3 is when scribbling generally becomes more deliberate, and children typically learn to draw (and recognize) circles.
Two-year-olds are usually able to undress themselves and even help with the task of getting dressed.
3 years
By 3 years, your child should be able to get around with ease. This includes not only riding a tricycle, running, jumping, and climbing, but also hopping and balancing on one foot (if only for a few seconds), and walking up stairs like an adult, alternating feet and only putting one on each step.
At the beginning of this year, your 3-year-old will likely be able to dress herself with relative ease, but buttons will still pose a challenge. By the end of the year, however, buttoning and zipping are much more likely to be a snap.
Most 3-year-olds can not only draw a circle, but learn to draw a cross as well. Attempts at drawing people start out relatively crudely and with very little detail, but will soon progress to include several body parts.
4 years
Children this age are able to draw more detailed pictures of people. Stop to look at your child's drawings, and you're sure to find that they have become much less like abstract art, involving more attention to detail. Pictures of people, for example, are less crude and often involve more than just a few body parts.
5 years
While only a few are truly skilled at shooting baskets or scoring soccer goals, just about all 5-year-olds are able to hop, skip and jump, throw (and sometimes catch) a ball, and climb the stairs without effort.
Whether or not 5-year-olds have mastered the skill of tying shoelaces obviously depends on how often they have actually been exposed to shoelaces, since Velcro seems to be the hottest thing since sliced bread these days when it comes to children's footwear. But for the most part, children are usually capable of both tying their own shoes and buttoning their own buttons before the age of 6.
6 years
While some are truly skilled at shooting baskets or scoring soccer goals, just about all 6-year-olds are able to hop, skip, jump, and throw and catch a ball.
Children are usually capable of both tying their own shoes and buttoning their own buttons before the age of 6.
Selasa, 17 Februari 2009
Cookies-nya Mba Desi
Description:
Ini sih sebenernya bukan resep, hehe,, at least belum,
Kemarin abis pengajian di Mba Desi alhamdulillah dapet rejeki adonan cookies-nya Mba Desi, pulang pulang ke rumah, nyoba nyetak dehh!! karena belum punya cetakan, di-cetak bebas dulu, bareng anak-anak, FUN banget ternyata! Zahra sih jadinya bikin おだんご(bola) yang memang merupakan bentuk kesukaannya, terus jadi cookies bulet deh. Kalo Akira bentuk sangat bebas yang akhirnya masuk mulut, haha.. secara sederhana, bisa menggunakan pisau roti untuk membentuknya.
Ingredients:
-Tepung
-Gula halus
-Telur
- ...
Directions:
disusul setelah konsultasi detail hehe..
Kalau ngga salah sih semua bahan itu dicampur,
kaya bikin adonan kue lebaran.
bakingnya 160 derajat, 20 menit
Botol dan Sedotan
Mainan bayi kreatif, murah, dan edukatif dan FUN tentunya!
Bahan: Botol plastik plus tutupnya dan sedotan
Cara buat:
Botol plastik bekas, tutup plastiknya diberi lubang sebesar sedotan.
Sedotan digunting-gunting kira-kira 5 cm (ini sih tugas Tetehnya hehe)
Praktis banget kan??
Permainan ini sangat melatih konsentrasi anak, penglihatan anak, dan motorik tangan. Untuk anak 1 tahun, pekerjaan cukup serius ini. Tangan mungilnya mengambil sedotan, kemudian berusaha mencari posisi yang pas untuk bisa memasukkan sedotan ke dalam botol. sedotan dimiring-miringkan, botol pun dimiring-miringkan. Kalau berhasil masuk, senyum lebar dehh
Jadilah sore tadi main ini dulu di kelasnya Akira hingga Akira puas, clever boy!